Pages

Labels

Kamis, 18 Juni 2020

Menjadi Nasyiah (2)

Nasyiah akan selalu terbuka dalam sikap dan toleran terhadap perbedaan serta keragaman anggotanya. Namun tidak serta merta berarti ia juga memiliki ideologi terbuka. Dalam arti, ideologi Muhammadiyah tetap menjadi landasan pergerakan Nasyiah. Oleh karena demikian, Nasyiah sangat mendorong adanya transformasi kader secara berjenjang. Dengan tujuan supaya kader dapat memaksimalkan perannya sesuai dengan jenjang organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah.

Dalam beberapa kasus, kini terdapat semacam "pengkultusan organisasi". Sebagai contoh misalnya, kader IPM karena telah demikian mendalam kecintaan kepada IPM, merasa tidak perlu lagi bergabung dalam ortom lainnya, meskipun secara usia dan kondisi sudah tidak sesuai lagi bergabung sebagai kader IPM. Begitu pula dengan kader IMM misalnya, banyak pula yang merasa bahwa dirinya adalah kader IMM "selamanya" tanpa perlu bergabung dengan ortom lain pada jenjang yang lebih tinggi (Pemuda Muhammadiyah atau Nasyiatul Aisyiyah). 
Sehingga yang terjadi adalah terputusnya kaderisasi dan menyebabkan ruang untuk mengekspresikan diri bagi para kader terkesan tidak ada. 
Lihat saja contohnya kader IPM, sangat sedikit sekali yang -ketika mereka menjadi mahasiswa- bergabung dengan IMM. Padahal sesungguhnya perkaderan Taruna Malati II di IPM setara dengan Darul Arqam Dasar di IMM. Begitu pula kader IMM (immawati) sangat sedikit yang berminat untuk bergabung di Nasyiatul Aisyiyah, padahal perkaderan Darul Arqam Dasar di IMM setara dengan Darul Arqam I di Nasyiah. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi? Inilah yang Saya maksud dengan "pengkultusan" organisasi tadi. Dimana kader memandang bahwa tidak ada ortom yang lebih baik dibanding ortom yg pertama kali mereka geluti. Istilah sederhana bisa di sematkan dengan "kader gagal move on." 
Parahnya lagi, ada pula yang menganggap bahwa kader di ortom lain bukanlah kader Muhammadiyah, padahal di tiap ortom punya sistem kaderisasi tersendiri.

Di sinilah pentingnya kedewasaan sikap yang dimaksud dalam tulisan Saya yang pertama. Perlu kita memandang bahwa kader itu bukan "the others" apabila ia terlahir dari rahim ortom yg berbeda, namun mestinya dianggap sebagai satu kesatuan yaitu kader Muhammadiyah atau angkatan muda Muhammadiyah. Pandangan seperti ini akan meminimalisir dikotomi kader dan bukan kader.

Idealnya seorang kader Muhammadiyah harus dapat mewarnai dan menghidupkan organisasi, bukan hanya menjadi followers. Tetapi juga menjadi poros penggerak organisasi, dalam ortom apapun dia bergabung.

Oleh karena demikian, Nasyiah sangat mendorong adanya transformasi kader, karena sesungguhnya transformasi kader itu sangat penting untuk perkembangan organisasi. Semakin banyak kader yang berjenjang dalam ortom Muhammadiyah, akan semakin baik pula perannya sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna dakwah Muhammadiyah. Sebab, tidak ada yang lebih memahami Muhammadiyah selain generasi yang sejak awal telah bergabung dalam ortomnya.

Oleh: Sekretaris Umum PDNA Kab. Bima
Read More... Menjadi Nasyiah (2)

Menjadi Nasyiah (1)

Banyak yang bertanya, apa sih bedanya Nasyiatul Aisyiyah dengan organisasi lain? Di Nasyiah itu kita ngapain aja? Apa untungnya ber Nasyiah? Kalau sudah aktif di ortom Muhammadiyah yang lain, ngapain juga bergabung lagi di Nasyiah? Dan banyak lagi pertanyaan2 lain yg muncul.

Kali ini, kita coba uraikan satu persatu ya gengs...

Nasyiatul Aisyiyah itu merupakan salah satu organisasi otonom Muhammadiyah, dimana orang2 yang terlibat di dalamnya adalah para perempuan muda usia produktif (mulai 17-40 tahun) dan mereka semua Muslim.

Di Nasyiah, sangat berbeda dengan beberapa ortom Muhammadiyah lainnya (seperti HW, IPM, IMM) yang membatasi anggotanya yg perempuan sebatas pelajar atau mahasiswa. Nasyiah lebih terbuka, syaratnya cuma 1 yaitu perempuan Islam. Sehingga tidak heran kalo di Nasyiah, anggotanya memiliki latar belakang organisasi yang cukup beragam. Seperti misalnya ketika mereka mahasiswa, ada yang bergabung di HMI, KAMMI, PMII dll. Kenapa demikian? Karena di Nasyiah, segala sekat ideologis yg kaku itu sudah mulai memudar. Dalam arti, hanya ada satu kepentingan yang melebihi ego latar belakang organisasi itu, yaitu peningkatan kualitas perempuan Muslim.

Hal ini yang menyebabkan Nasyiah sangat terbuka, siapapun boleh bergabung apabila ia sepakat dengan gerak langkah dan kepribadian Nasyiah dan Muhammadiyah. Asalkan ia perempuan muslim, sejalan dengan spirit Muhammadiyah, ya gabung saja.. Tidak perlu persyaratan rumit. Meskipun secara formal memang tetap diharuskan untuk mengikuti perkaderan.

Inilah yang disebut kedewasaan sikap Nasyiah. Sesuai dengan warna organisasi ini yaitu Krem / putih tulang. Itu merupakan gambaran warna perempuan yg dewasa dalam berpikir dan bertindak, penuh kompromi, tidak saklek dan kaku. Yang utama di Nasyiah adalah esensi, bukan formalitas. Bagaimana seluruh kader Nasyiah dapat memajukan perempuan muslim, pemberdayaan dan memberi manfaat bagi kaum wanita. Nasyiah sebagai putri Muhammadiyah sangat antusias menunjukkan bahwa perempuan dalam perspektif Muhammadiyah adalah motor penggerak perubahan, bukan sekedar memainkan peran domestik namun juga mampu menjadi poros pergerakan publik.

Menyadari potensi yang sangat besar dalam diri perempuan, Nasyiah menjadi organisasi yang sangat concern terhadap peningkatan kualitas hidup perempuan dan berusaha mengambil peran untuk perubahan masyarakat.
Read More... Menjadi Nasyiah (1)

Kamis, 18 Februari 2016

KARINA: "Konsep Keluarga Sakinah"

"Pernikahan adalah bukan tentang seberapa banyak mahar dan mewah prosesinya, melainkan seberapa siap kita menjalaninya" (Dr. Luthfiyah, M.Ag). Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Bima kembali mengadakan Kajian Rutin Nasyiah (KaRiNa), (Kamis 18/februari/2016) di sekretariat Nasyiatul Aisyiyah, Jl. Kartini No. 2 Paruga Rasana'e Barat. adapun tema untuk mengawali Karina kali ini adalah "Keluarga Sakinah: Telaah Normativ-Sosiologis" yang diuraikan dengan sangat apik oleh Dr. Ruslan, M.Ag dan Dr. Luthfiyah, M,Ag sebagai panelis. berikut catatan singkat tentang keluarga sakinah.
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (ar-Rum: 21).
 Keluarga adalah jiwa dan tulang punggung suatu negara, kesejahteraan lahir batin yang dialaminya adalah cerminan dari situasi keluarga yang hidup ditengah-tengah masyarakat negara itu sendiri.demikian sebahagian ungkapan Qurais Syihab dalam Membumikan Al-Qur’an. Dengan demikian, jika kita menginginkan tercipta Baldatun Thayyibatun, landasan yang harus kita bangun adalah masyarakat marhamah, pondasi yang harus kita bangun untuk membentuk masyarakat yang marhamah adalah keluarga sakinah, sedangkan pilar yang harus ditegakan untuk mewujudkan keluarga sakinah adalah aqidah, mawaddah, dan rahmah. Dengan figur seorang ayah yang bijaksana dan berwibawa. Dengan profil seorang ibu yang penyantun, lembut dan bisa mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan penuh buaian kasih sayang. Inilah yang dimaksud dengan: البيت مدرسة الأولى keluarga adalah sekolah yang paling utama dan pertama.
Salah satu keagungan kebesaran Allah adalah diciptakanya manusia secara jenis kelamin berpasang-pasangan dengan tujuan agar membentuk keluarga sakinah, sedangkan modal yang Allah berikan untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah mawaddah warohmah. Mawaddah menurut Ibrahim Al-Biqa’i sebagai mana disitir oleh Quraisy Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an adalah cinta yang tidak ditanggapi keburukan baik lahir maupun batin. sedangakan yang dimaksud dengan rahmah adalah kasih sayang suami karnra takut menimpa keburukan terhadapnya.dengan demikian antara suami dan istri saling mengisi dan melengkapi.inilah yang dinamakan kemitrasejajaran antara suami dan istri yang bisa merekat keluarga akan semakin harmoni.
Namun dengan masuknya paham hedonisme, ternyata telah menggusur dan menggeser cita-cita keluarga sakinah menjadi “a mere overnight parking place, mainty for sex relationships”, keluarga hanya tempat pesinggahan di malam hari, terutama untuk hubungan sex.
Read More... KARINA: "Konsep Keluarga Sakinah"

Jumat, 28 Agustus 2015

Perempuan dalam Pilkada

Dunia politik adalah dunia kekuasaan yang paling kongkrit, disinilah terjadi persaingan, dari mulai tingkat paling lunak sampai paling kasar, dan karena perempuan jarang melewati tahap-tahap berpolitik ini. “etos kerja” politiknya rendah. Politik terlalu sederhana untuk dijadikan propesi karena di dalamnya terdapat sejumlah kepentingan. Politik lebih indah disebut sebagai perjuangan. Di dalamnya ada berbagai nuansa pembelaan terhadap hak-hak orang tertindas, politikus perempuan tak terkecuali, harus melakukan hal serupa.

Sistem nilai patriarkhi menempatkan perempuan berada dibawah subordinasi laki-laki, sistem patriarkhi dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari baik pada perempuan kelas bawah maupun kelas atas, di rumah, di tempat kerja dan dikomunitas yang lebih luas, wujud dan intensitas subordinasi bervariasi. Namun pada dasarnya sama mengandung salah satu atau lebih unsur-unsur yang merendahkan perempuan seperti, diskriminasi, kurang dihargai, kontrol, pemerasan, penindasan dan kekerasan, celakanya sistem ini diadopsi oleh negara sebagaimana tercermin dalam undang-undang kebijakan, maupun peraturan-peraturan bermasyarakat dan bernegara.

Ormas perempuan yang mempunyai massa luas dan bebas bergerak seperto PKK dan Dharma Wanita selain telah dikontrol oleh pemerintah (seperti halnyan, SPSI, HKTI, KNPI dan lain-lain) juga melanggengkan posisi subordinasi perempuan di bawah laki-laki, dalam organisasi ini posisi perempuan sangat tergantung pada laki-laki, artinya dalam kontek hak berserikat, perempuan ditundukkan dua kali yaitu di bawah kontrol negara dan di bawah kontrol laki-laki.

Sehubungan dengan keterwakilam perempuan dalam dunia politik kita punya harapan besar terhadap keberadaan perempuan dalam pemilihan kepala daerah langsung yang sedang bergulir saat ini di dunia perpolitikan negeri ini, bagaimana peluang perempuan dalam pemilihan kepala daerah secara langsung ini atau dengan kata lain apakah peluang perempuan sebagai pemimpin daerah mempuyai peluang yang sama dengan laki-laki? Kita tunggu hasilnya.
Read More... Perempuan dalam Pilkada

Selasa, 18 Agustus 2015

Dilema Peran Perempuan dalam Politik

Dalam negara yang menganut sistem nilai patriarkal, seperti Indonesia, kesempatan perempuan untuk menjadi politisi relatif terbatasi karena persepsi masyarakat mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, yang cenderung bias kearah membatasi peran perempuan wanita pada urusan rumah tangga. Namun demikian, pada masa perjuangan kemerdekaan, kebutuhan akan kehadiran banyak pejuang, baik laki-laki maupun perempuan, membuka kesempatan luas bagi para wanita untuk berkiprah di luar lingkup domestik dengan tanggungjawab urusan rumah tangga. Masyarakat menerima dan menghargai para pejuang perempuan yang ikut berperan di medan perang, dalam pendidikan, dalam pengobatan, dan dalam pengelolaan logistik. Kesempatan ini memberi kemudahan pada perempuan untuk memperjuangkan isu-isu yang berhubungan dengan kepentingan mereka atau yang terjadi di sekitar mereka selain isu politik.

Kurangnya representasi perempuan dalam bidang politik antara lain disebabkan oleh kondisi budaya yang patriakal yang tidak diimbangi kemudahan akses dalam bantuk tindakan afirmatif bagi perempuan, seperti pemberian kuota. GBHN, dan berbagai instrumen politik dan hukum tidak secara eksplisit menunjukkan diskriminasi terhadap perempuan namun tidak pula memberikan pembelaan dan kemudahan bagi perempuan dalam berbagai bidang, termasuk politik. Undang-Undang Dasar 1945, Bab X, Ayat 27 menyatakan bahwa “Semua warganegara adalah sama di hadapan hukum dan pemerintah,” sedangkan Ayat 28 menjamin “Kebebasan berkumpul dan berserikat, dan kebebasan menyatakan pendapat baik secara lisan maupun tertulis.” Sekalipun demikian, dalam kondisi yang patriakhal perempuan menghadapi beberapa kendala untuk mensejajarkan diri dengan laki-laki dalam berbagai bidang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola seleksi antara laki-laki dan perempuan terkait keterlibatannya dalam politik. Faktor pertama berhubungan dengan konteks budaya di Indonesia yang masih sangat kental asas patriarkalnya. Persepsi yang sering dipegang adalah bahwa arena politik adalah untuk laki-laki, dan bahwa tidaklah pantas bagi wanita untuk terlibat dalam politik.
faktor kedua, kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan wanita. Sering dirasakan bahwa sungguh sulit merekrut perempuan dengan kemampuan politik yang memungkinkan mereka bersaing dengan laki-laki. Perempuan yang memiliki kapabilitas politik memadai cenderung terlibat dalam usaha pembelaan atau memilih peran-peran yang non-partisan.
faktor ketiga, faktor keluarga. Wanita berkeluarga sering mengalami hambatan-hambatan tertentu, khususnya persoalan izin dari pasangan mereka. Banyak suami cenderung menolak pandangan-pandangan mereka dan aktifitas tambahan mereka diluar rumah. Kegiatan-kegiatan politik biasanya membutuhkan tingkat keterlibatan yang tinggi dan penyediaan waktu dan uang yang besar, dan banyak perempuan sering memegang jabatan-jabatan yang tidak menguntungkan secara finansial. (Husna)

Read More... Dilema Peran Perempuan dalam Politik

Rabu, 03 Juni 2015

Bantuan kepada Korban Kebakaran di Desa Keli

Musibah Kebakaran yang terjadi di desa Keli Kecamatan Woha Kabupaten Bima menghanguskan sebelas rumah pada ahad pagi 31 Mei 2015 pukul 03.00 wita. kebakaran yang menghakibatkan sembilan rumah rata dengan tanah tanpa tersisa ini diduga berasal dari kerusakan arus listrik yang ada di rumah Kepala Desa Keli, yang selanjutnya api dengan cepat merambat ke beberapa rumah di sekitarnya. banyaknya korban materil yang dirugikan dari peristiwa ini mencapai ratusan juta rupiah. sebagai bentuk keprihatinan atas musibah yang terjadi, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Bima berinisiasi untuk memberikan bantuan kepada korban kebakaran tersebut.
selasa 2 Juni 2015 PD Nasyiah Kabupaten Bima bersama IMM Cabang Bima mengunjungi lokasi kejadian. berdasarkan hasil koordinasi dengan Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah Desa Keli didapatkan informasi bahwa korban sangat membutuhkan perlengkapan dapur, disamping beberapa kebutuhan mendasar lainnya.disampign itu, adik-adik dari Pimpinan Cabang IMM Bima juga menyerahkan bantuan sembako langsung di posko penerimaan bantuan kebakaran. kegiatan ini juga terselenggara atas bantuan dari LazisMu Bima.
Read More... Bantuan kepada Korban Kebakaran di Desa Keli

Rabu, 06 Mei 2015

KARINA (Kajian Rutin Nasyiah)

Pimpinan Daerah nasyiatul Aisyiyah secara aktif telah melaksanakan kegiatan "mengaji" memperdalam pemahaman dan pengetahuan tentang agama, sosial, dan hal-hal yang terkait dengan perempuan dan anak. sejak dikukuhkan berdasarkan SK Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiah pada September 2014 lalu, PDNA Kabupaten Bima mengawali kegiatan mengaji ini dengan tema awal ketarjihan. kegiatan yang dinamai dengan KARINA (Kajian Rutin Nasyiah) ini berlangsung 2x dalam 1 bulan yang sifatnya tematik. adapun tema-tema yang telah dibahas adalah
ketarjihan, ayat-ayat muhkamat dan Mutasyabihat, metode pengambilan hukum Islam, Konsep negara dalam Islam. KARINA diadakan tiap ahad pertama di awal bulan dan ahad ketiga diakhir bulan. adapun peserta yang mengikuti KARINA terdiri dari para pengurus PDNA, adik-adik Immawati dan IPMawati. peserta yang hadir tiap pekannya sebanyak 20-26 orang. KARINA untuk semester ini dibimbing langsung oleh KH.Abdul Ghany Masjkur (Muma). disamping itu, kegiatan yang rutin diselenggarakan di kediaman Muma di Jl. Sultan Salahuddin No.4 ini dirangkaikan dengan Arisan anggota PDNA Kabupaten Bima.(Husna)
Read More... KARINA (Kajian Rutin Nasyiah)

Senin, 04 Mei 2015

Pemberian Bantuan Sembako pada Penderita Kusta

Sebanyak 23 Kepala Keluarga di RT 03/RW 01 desa Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima mendapatkan bantuan sembako dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) dan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Bima pada Ahad 3 Mei 2015 lalu. Tidak hanya pembagian sembako, PDA dan PDNA Kabupaten Bima juga memberikan penyuluhan agama kepada warga setempat. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan LAZIS Muhammadiyah Bima. Menurut Dra. Suharni, Ketua Umum PDA Kabupaten Bima, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Aisyiyah Kabupaten Bima terhadap warga penderita kusta yang telah lama berdiam di desa Panda, dimana lokasi ini merupakan tempat isolasi bagi penderita kusta sejak 20 tahun lalu. Kegiatan juga sebagai upaya untuk terus menggiatkan gerakan dakwah Aisyiyah di masyarakat Bima.
Di samping itu, Zuhrah, M.HI, selaku Ketua Umum PDNA Kabupaten Bima juga menyatakan bahwa“banyaknya perempuan yang menjadi penderita kusta, TB, kanker dan beberapa masalah kesehatan lainnya mengindikasikan bahwa kesejahteraan perempuan masih jauh dari yang diharapkan. Disini diperlukan kiprah Nasyiah untuk terus intens melakukan advokasi terhadap perempuan dan anak.” Zuhrah kembali menegaskan bahwa “Nasyiah Kabupaten Bima akan terus mengupayakan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang menyentuh langsung pada kebutuhan perempuan dan anak di Kabupaten Bima sebagaimana telah dituangkan dalam program kerja.”(husna)
Read More... Pemberian Bantuan Sembako pada Penderita Kusta

Jumat, 01 Mei 2015

Catatan Kecil di Hari Pendidikan Nasional

Sampai saat ini kesenjangan tingkat pendidikan dan ekonomi masih cukup tinggi di negeri ini. Jumlah penduduk miskin pun tak signifikan berkurang. Padahal, bangsa ini memiliki sejarah perjuangan yang panjang untuk merdeka. Darah dan air mata tertumpah untuk merebut kedaulatan dan harga diri bangsa. Dulu, negeri ini banyak mempunyai pejuang sekaligus pemimpin dan pemikir, jujur, bermoral tinggi, dan mengutamakan pendidikan dan kesejahteraan bagi kaum miskin di atas segalanya. Padahal konsep bangsa berarti setiap masyarakat yang menempati suatu wilayah yang mengutamakan rasa senasib dan seperjuangan.
Sejarah suatu bangsa ditentukan oleh mereka sendiri. Demikian juga, rakyat berdaulat atau tidak, sangat ditentukan oleh rakyat itu sendiri. Sudah menjadi tugas para pemimpin, politikus, ulama, dan cendekiawan, serta tokoh-tokoh bangsa lainnya untuk mendengarkan suara rakyat dan mengartikulasikannya menjadi agregasi dan agenda perubahan politik ke arah yang lebih baik. Jika tidak, bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang terdidik dan mandiri. Memang ada upaya pemerintah dan rakyat Indonesia untuk meningkatkan pendidikan dengan bertambahnya jumlah dan jenis sekolah, karena besarnya hasrat rakyat untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Namun, yang diutamakan seringkali jumlah sekolah, bukan mutunya.
Pemimpin dan politisi negara sudah waktunya harus memikirkan mutu sekolah yang sesuai dengan cita-cita bangsa yang merdeka dan berdaulat. Mengingat laju perkembangan ilmu pengetahuan demikian cepat dengan langkah yang melompat-lompat, diperlukan strategi yang jitu dan kerja yang keras agar bangsa kita terdidik dan lebih maju. Dari waktu ke waktu iklim pendidikan berubah. Hal ini menyesuaikan dengan kebutuhan baik kebutuhan lokal maupun mengadaptasi perkembangan global. Kebutuhan industri (dunia kerja) dan perkembangan sosial budaya juga berperan dalam perubahan ini.
Saat ini pendidikan Indonesia menuju pendewasaan yang entah kapan mencapai kemapanan. Berbagai peningkatan yang dilakukan seakan pencarian bentuk yang tiada usai. Kurikulum berubah dari waktu ke waktu namun belum menunjukkan kemapanan dalam pencapaian. Bahkan, orang tua dan peserta didik menjadi bingung dengan berbagai perubahan ini. Evaluasi dan kritik terhadap sistem pendidikan nasional tidak salah. Akan tetapi bukankah akan lebih berman faat jika kita lebih melihat sisi positif pendidikan kita dan tidak melulu melihat keburukan pendidikan Indonesia. Apa yang membuat kita malas dengan pendidikan Indonesia dan menganggap kurang dari negara lain mungkin saja disebabkan karena kita jarang melihat dan mengakui hal positif dalam pendidikan nasional.
Kita semua menyadari bahwa perbaikan dalam sistem pendidikan sangat diperlukan. Sudah bukan saatnya kita hanya mengkritisi akan tetapi berbuat untuk yang lebih baik dan selalu positive thinking dengan pendidikan kita akan lebih membangun pendidikan Indonesia kedepannya. Pada akhirnya, dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun ini, kita memang harus terus berusaha melakukan yang terbaik bagi pendidikan di Indonesia. Hal sekecil apapun seperti gerakan gemar membaca pasti akan berguna bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi? Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Read More... Catatan Kecil di Hari Pendidikan Nasional

Menjadi Muslimah yang Enggak Gaptek

Teknologi. Apa yang terbayang dibalik kepala kita saat sebaris kata itu muncul? Bisa alat-alat elektronik dengan spesifikasi menakjubkan, bisa mobil-mobil sedan keluaran terbaru, atau bisa juga roket penembus angkasa dengan manusia melayang-layang didalamnya. Yang pasti, semua yang berbau "High Class", maka itulah teknologi. Teknologi, pada saat ini menjadi barang yang boleh jadi, sudah bukan sesuatu yang membuat mata atau hidung kita alergi lagi mendengarnya. Setiap perputaran hidup kita, saat ini, dengan atau tidak kita sadari dikelilingi oleh teknologi. Lihat saya mesin cuci dipojok ruang belakang rumah kita, lemari pendingin yang menjulang di sisi dapur kita, atau microwave, si- "kotak ajaib" sebagai alat bantu masak kita. Semuanya adalah bagian dari teknologi. Terlebih saat ini, dengan era internet yang disebut juga sebagai era Information Technology (IT).
Semua hal dapat dengan mudah kita dapatkan. Akses informasi seperti tak mengenal ruang dan waktu, tersaji dalam hitungan sepersekian detik, Subhanallah! Dari mulai resep masakan, sampai informasi terbaru Rekayasa Genetik misalnya, dapat kita temukan melalui internet. Memasuki era teknologi, mau tidak mau, kita selaku komponen dari banyaknya komunitas
Dunia harus mulai terbiasa dengan hal ini. Khususnya Teknologi Informasi, yaitu internet tadi. Karena lalu lintas informasi dari setiap sisi kehidupan di Dunia ini dapat kita temukan melalui internet. Komunikasi virtual, yang diantaranya tersaji dalam fasilitas email, chatting dan miling list memudahkan kita berhubungan dengan masyarakat di belahan Dunia bagian manapun, dalam rangka menghadapi Globalisasi dan Perdagangan Bebas.
Lalu, bagaimanakah posisi kita, sebagai seorang muslimah dalam rangka menghadapi era Teknologi sekarang ini? Jawabnya sangat banyak. Muslimah, yang pada hakikatnya adalah tiang sebuah negara, pembangun generasi yang akan meneruskan perjuangan ini di kemudian hari, harus mengerti teknologi. Karena kita hidup pada masa dimana anak-anak kita semakin sering bergesekan dengan teknologi. Lantas, darimana mereka akan belajar mengenal teknologi dengan baik, kalau bukan dari kita yang berperan mewujudkan madrasah pertama bagi anak-anak kita? Selain itu, wanita pada masa ini juga dituntut untuk meningkatkan keterampilannya dalam menghadapi dunia kerja. Karena hampir semua yang ada pada pekerjaan berhubungan dengan teknologi. Termasuk juga pekerjaan Rumah Tangga kita, seperti yang sudah disinggung diatas.
Dengan menguasai teknologi juga kita tidak akan mudah ditipu orang. Karena banyak kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan fasilitas-fasilitas teknologi. Para ahli bahkan mengatakan, "Siapa yang tidak menguasai teknologi, harus siap terpental dari kehidupan." Yang terpenting bagi kita, keharusan menguasai teknologi tidak terbatas apakah dia pria atau wanita. Teknologi adalah untuk dipelajari semua lapisan dan kelompok manusia. Termasuk kita, seorang wanita muslim. Agar kita tidak terpental dari kehidupan, seperti yang dikatakan para ahli tersebut. Maka, mulailah sekarang untuk belajar banyak mengenai teknologi. Agar tidak ada lagi istilah "Gaptek" (Gagap Teknologi) dalam menghadapi kehidupan ini.
Read More... Menjadi Muslimah yang Enggak Gaptek

Aktivis Muslimah Harapan Rasulullah

Menjadi wanita memang menyenangkan, apalagi wanita "Muslimah", sebab muslimah berarti wanita yang telah diseleksi oleh Allah untuk menerima hidayah-Nya dan menjalankan kehidupan sesuai dengan sunnah Rasul-Nya. Rasulullah sebagai manusia pilihan Allah, sangat peduli terhadap muslimah. Beliau sangat menyayangi muslimah sehingga beliau berpesan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Tidaklah seorang muslim yang mempunyai anak dua orang perempuan kemudian ia berbuat baik dalam berhubungan dengan keduanya akan bisa memasukannya ke dalam surga." Di masa beliau hidup kaum wanita merasakan angin segar dalam kehidupannya, setelah sebelumnya pada masa jahiliyah hidup teraniaya, tidak mendapatkan hak yang semestinya. Untuk menjadi muslimah yang disayang oleh Rasulullah SAW hendaknya diperhatikan empat hal berikut:
1. Faqihah Lidiiniha Seorang muslimah hendaknya faqih (paham) terhadap din (agamanya). Selayaknya ia dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dalam arti pas tajwid dan makhorijul hurufnya. Kemudian dapat membaca hadits dan selalu pula menjadi bacaan hariannya, karena dengan itu ia memahami keinginan Rasulnya untuk kemudian berusaha menyesuaikan kehidupannya sesuai dengan cara hidup Rasulullah SAW. Setelah itu ia berusaha menyesuaikan kehidupannya sesuai dengan cara hidup Rasulullah SAW. Ia juga harus berusaha memperkaya diri dan wawasannya melalui belajar kepada seorang guru yang jujur dalam menyampaikan ilmunya, dan berusaha banyak membaca buku agama lainnya seperti tentang aqidah, akhlaq, fiqh, siroh, fiqh da'wah, Tarikh Islam, sejarah dunia dan ilmu kontemporer lainnya. Contoh muslimah yang menguasai ilmu-ilmu ini adalah Aisyah RA

2.Najihah fi Tarbiyyati Auladiha Seorang aktifis muslimah yang telah berkeluarga hendaknya mengupayakan kesuksesan dalam mendidik anaknya, bahkan bagi bagi seorang aktivis yang belum berkeluargapun seharusnya mempelajari bagaimana cara mendidik anak dalam Islam, karena ilmu tersebut fardhu 'ain, sehingga mempelajarinya sama dengan mempelajari wudhu, sholat, shoum, dan yang lainnya. Sehingga ia tahu betul cara mendidik anak dalam Islam yang nantinya anak-anak tersebut akan ia persembahkan untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin. Insya Allah kelak ia akan menjadi Ibu yang sukses seperti Hajar dan Khadijah ra.

3. Muayyidah fi Da'wati Zaujiha Sebagai aktifis amal Islami, kepedulian kita bukan hanya kepada masalah eksternal, mengupayakan pelaksanaan amal Islam terhadap orang lain, akan tetapi kepedulian terhadap aktifitas keluarga harus lebih diutamakan, misalnya memberikan motivasi amal Islami kepada anak, pembantu, juga suami. Ia menjadi muslimah yang senantiasa menjadi motivator kebaikan suaminya, seperti Ummu Sulaim yang menikah dengan Abu Tholhah dengan mahar syahadat. Namun ketika Abu Tholhah wafat Rasulullah mensholatkannya sampai sembilan kali takbir, saking sayangnya Rasulullah kepada beliau karena tidak pernah absent dalam beramal dan berjihad bersama Rasul. Hal ini ia lakukan karena selalu mendapat motivasi dari Ummu Sulaim, istrinya.
4. Naafi'ah Fi Tagyiiri Biiatiha Ia selalu peduli terhadap lingkungannya, selalu membuka mata dan telinga untuk mengetahui kondisi lingkungannya, berusaha menjadi anashir tagyiir (unsure perubah) dalam lingkungannya, selalu mengupayakan lingkungannya menjadi lebih baik. Contohnya Ummu Syuraik yang selalu mengelilingi pasar bila saat sholat tiba untuk mengingatkan penghuni pasar agar segera melaksanakan sholat dengan kalimatnya yang terkenal 'Assholah, Assholah!!!' Demikian semoga dengan empat hal ini kita dapat menjadi aktifis Muslimah yang di cintai Rasulullah SAW. Amin.
Read More... Aktivis Muslimah Harapan Rasulullah

Jumat, 24 April 2015

Nasyiah peduli Lingkungan

Dalam rangka menyemarakkan Milad Nasyiatul Aisyiyah yang ke-81, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Bima melakukan aksi bakti sosial peduli lingkungan. aksi ini dilakukan di
sepanjang pantai kalaki Kabupaten Bima. Peduli terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, atas dasar itulah Nasyiah Kabupaten Bima pada hari minggu melakukan aksi bersih – bersih pantai. kegiatan di mulai jam 06.00 dan berakhir 11.00. Kegiatan ini merupakan kampanye untuk lebih peduli kepada kebersihan lingkungan sekitar, edukasi tentang macam-macam sampah dan dampaknya bagi lingkungan. Aksi ini bertujuan untuk menjaga kebersihan pantai dan mengingatkan para wisatawan tentang budaya malu membuang sampah sembarangan dengan harapan mereka tidak membuang sampah sembarangan dan mengajak Pengunjung lainya untuk saling menjaga kelestarian alam. kegiatan ini terlaksana dengan sukses juga berkat kerjasama dan bantuan dari Basarnas yang memijamkan truknya untuk mengangkut sampah-sampah dari pantai menuju TPA.
Read More... Nasyiah peduli Lingkungan

Nasyiah Tanggap Bencana

Erupsi gunung Sangiang pada Jumat 30/5/2014 menyebabkan kerugian materil dan berdampak pada kesehatan masyarakat di sekitar desa Sangiang. banyak masyarakat yang terinfeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh abu vulkanik yang dihirup langsung oleh warga. kondisi warga sangat memperihantinkan, mengingat persediaan makanan dan air bersih juga menipis. Nasyiah Kabupaten Bima pada hari ketiga turut memberikan bantuan kepada warga korban erupsi Sangiang setelah sebelumnya menlakukan penggalangan dana.
menanggapi banyaknya warga yang terkena ISPA (infeksi saluran pernapasan akut), nasyiah membagikan masker kepada warga di tiga desa terparah yang terdekat dengan lokasi gunung sangiang. disamping itu Nasyiah yang bekerja sama dengan MDMC, Aisyiah, IMM dan IPM juga memberikan trama healing kepada anak-anak untuk membantu kondisi psiokologis anak dalam menghadapi kondisi pasca erupsi sangiang.
Read More... Nasyiah Tanggap Bencana

Pergantian Pengurus: Semangat Baru Nasyiah Bima

Setelah melewati wati sekian lama, akhirnya Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Bima melaksankan Musyawarah Daerah untuk meremajakan kepengurusan di tingkat daerah. Musyawarah Daerah (Musyda) ini berlangsung pada
Agustus 2014 lalu, menghasilkan susunan kepengurusan yang di Nahkodai oleh Zuhrah, M.HI. alhamdulillah pada periode kali ini (2014-2018) diwarnai oleh semangat anak-anak muda yang memiliki komitmen tinggi dalam berorganisasi. sebagian besar pengurus mengawali pengalaman berorganisasinya di IMM, sehingga sudah tidak asing lagi bermuhammadiyah dan berkiprah di Nasyiah akan lebih maksimal lagi. semoga kedepan, Nasyiah akan Jaya dan menjadi ikon perempuan-perempuan tangguh di Bima, amien.
Read More... Pergantian Pengurus: Semangat Baru Nasyiah Bima

Kamis, 05 Juli 2012

Pemilihan Ketua Umum



pemilihan ketua umum Nasyiatul Aisyiah yang berlangsung semalam berjalan cukup alot dan sedikit menegangkan. pasalnya, ada "kesalahan teknis" yang menjadi kealpaan baik dari Panlih maupun peserta. perdebatan mengenai diadakan dan tidaknya Penyampaian Visi dan Misi dari para calon yang kemudian membentuk kubu dalam peserta secara spontan.
dari Jawa Tengah menghendaki agar para calon menyampaikan visi dan misi sebelum pemilihan, sedangkan beberapa wilayah selain Jawa Tengah menyepakati untuk meniadakan acara penyampaian visi dan misi, dengan alasan bahwa apapun visi dan misinya, tetap saja yang akan direalisasikan adalah hasil sidang tanwir dan muktamar, juga karena pertimbangan waktu yang semakin larut. hingga akhirnya Panitia Pemilihan kemudian memutuskan untuk meniadakan acara penyampaian visi dan misi.
perdebatan pun ternyata terus berlanjut hingga acara pemilihan/pemungutan suara. kekecewaan PW Jawa Tengah semakin nampak ketika mereka memilih walk out meninggalkan TPS dan tidak menggunakan hak suara. TPS II yang mennjadi tempat pemilihan Jateng pun sepi, hanya menyisakan beberapa utusan dari PW lain di Regional II. hal ini karena Jateng membawa peserta 117 orang.
ketegangan terus berlanjut hingga terjadi keributan-keributan kecil dari peserta, Pimpinan Pusat dan Panlih. namun disini terlihat kedewasaan Nasyiah yang tidak terlalu "memerdulikan" ketegangan tersebut sehingga tidak terjadi konflik internal. beberapa TPS (kecuali TPS II) masih terus melanjutkan aktifitasnya hingga penghitungan suara berakhir. dengan loby-loby kecil- akhirnya Jateng pun kembali bersedia menggunakan hak suaranya dan berkumpul di TPS II. pemungutan suarapun berlangsung hingga pukul 02.00 dan dilanjutkan dengan penghitungan suara di TPS II yang sempat terhenti.
pemilihan anggota formatur ini cukup unik, karena ada beberapa calon yang bersaing mendapatkan suara terbanyak. dari pantauan kami persaingan ini terjadi dari isu "Tua" dan "Muda." beberapa calon yang diunggulkan seperti Norma Sari Wardana, Ulfa Mawardi, Rita Pranawati dan lain-lain memiliki pendukung yang cukup "fanatik." akan tetapi, calon incumbent Abidah Muflihati pun tak kalah pendukungnya. namun hingga saat ini jumlah pasti dari keseluruhan suara yang berhasil masuk diberbagai TPS belum diketahui pasti.
utusan PDNA Kabupaten Bima mendapat kepercayaan menjadi saksi

surat suara yang batal, ungkapan kekecewaan peserta


Read More... Pemilihan Ketua Umum

Pembukaan Muktamar Nasyiah ke XII

Muktamar Nasyiah ke XII kali ini dilaksakan di Kota Bandar Lampung, pada Rabu (4/07/2012) kemarin secraa resmi ditandai dengan pemukulan gong secara bergilir oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin selaku PP Muhammadiyah, PP AiSyiah, dan PP Nasyiatul Aisyiah.
semarak acara pembukaan muktamar ini sangat kental dengan nuansa budaya asli Lampung. berbagai aksi tarian daerah, lagu-lagu daerah menjadi tontonan yang cukup membuat para undangan berdecak kagum. seperti tarian Ubah-Abeh dan beberapa tarian lainnya.
pembukaan Muktamar yang dilaksanakan di Gedung Serba Guna Universitas Lampung dipadati oleh para muktamirin dan tamu undangan.
(tak bisa bercerita lagi neh... lain kali dilanjutkan)...


Read More... Pembukaan Muktamar Nasyiah ke XII

Muktamar NAsyiah XII

rangkain acara muktamar Nasyiatul Asyiah XII telah berlangsung sejak hari selasa (3/6/12) di kota Bandar Lampung. setelah dibuka secara resmi oleh Din Syamsuddin selaku ketua umum PP Muhammadiyah kemarin, hingga hari ini sidang muktamar telah berjalan. pada malam ini akan dilakukan pembahasan hasil sidang komisi, kemudian akan dilanjutkan dengan pemilihan 9 orang anggota formatur. pada hari kamis kemarin, jumlah yang mengajukan diri sebagai bakal calon mencapai 49 orang, namun pada Rabu (4/06/2012) kemarin telah dikerucutkan menjadi 27 orang yang dipilih langsung oleh para muktamirin. dan menurut jadwal acara -jika tidak ada kendala- pemilihan 9 anggota formatur juga akan berlangsung malam ini. mengingat banyaknya peserta yang memiliki hak suara, maka panitia mengambil kebijakan dengan membagi lokasi pemilihan sesuai dengan regional masing-masing wilayah.
dibawah ini adalah foto beberapa calon yang akan "bertarung" memperebutkan suara pada muktamar XII ini.


Read More... Muktamar NAsyiah XII

Minggu, 10 Juni 2012

Nasyiah menghampiri, mereka pun tersenyum...



Banjir bandang yang melanda lima kecamatan (Langgudu, Belo, Palibelo, Monta dan Woha) di Bima mengakibatkan kerusakan dan kerugian yang cukup banyak dialami oleh warga. Camat Belo, M Chandra Kusuma mengungkapkan, banjir bandang itu cukup mengagetkan warga Kecamatan Belo, terutama masyarakat di Desa Ncera, Soki, Lido, Ngali dan Renda. Akibat banjir bandang, tanaman bawang merah yang siap panen hancur. Tidak itu saja, bawang yang sudah dipanen, bahkan sudah deal harganya dengan pembeli ikut terbawa banjir. “Demikian juga dengan tanaman padi yang diperkirakan akan gagal panen”, ujarnya.
Kata Chandra, lahan pertanian warga Ncera seluas 100 Ha yang dipakai untuk tanaman bawang, padi dan kacang tanah juga rusak. Selain itu, lahan warga Soki 18 Ha, lahan pada masyarakat Lido 16 Ha dan lahan bawang Merah 14 hektar.
Sedangkan lahan tanaman bawang merah yang rusak milik warga Ngali sekitar 400 hektar. Lahan padi masyarakat Renda 75 ha, bawang merah 125 hektar serta lahan padi masyarakat Cenggu 103 hektar dan 40 hektar tanaman bawang merah. (mau berita selengkapnya? baca di www.suaramandiri.net)


Namun dari sekian banyak kerugian materi tersebut, tidak dapat dimungkiri keadaan psikologi warga yang menjadi korban banjir pun sepertinya ikut tergerus oleh air bah tersebut. Harapan-harapan yang mereka tanam di sawah-sawah kini berubah menjadi lumpur.
Ya, ada banyak harapan di sana. Para pemuda-pemuda tanggung yang hendak melangsungkan perkawinan pasca panen kini harus menggigit jari, mencoba memberikan pengertian kepada sang calon istri untuk bersabar, menunggu hasil panen selanjutnya (itupun kalau punya modal untuk membeli bibit lagi) agar bisa “doho dampi.” para orang tua yang menyiapkan biaya untuk anak-anaknya yang akan melanjutkan pendidikan ke SMP, SMA, mendaftar Kuliah, persiapan tahun ajaran baru, bayar SPP, biaya anaknya yang akan wisuda sarjana dan segudang kebutuhan lainnya memaksa mereka harus tersenyum getir, mencoba berdiri tegak dengan kaki-kaki lemas dan gemetar (masih untung g pingsan) sambil memandang air bah itu menyapu semuanya, pusing...bahkan puyer Bintang Toedjoe pun takan mampu mengobatinya!


Menyadari kenyataan ini, Nasyiah Kabupaten Bima dengan segala keterbatasannya mencoba menghampiri para korban. Meski dengan bantuan ala kadarnya, namun dengan kehadiran di tengah-tengah para korban banjir merepresentasikan bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang mau berbagi. Mengembalikan semuanya seperti sedia kala, adalah mustahil. Namun dengan menyadarkan kepada mereka bahwa live must go on mungkin akan membantu men-charger semangat mereka untuk berjuang kembali, menghias kembali wajah-wajah mereka dengan senyum penuh arti yang menyiratkan bahwa memang hidup tak harus berhenti disini...

Read More... Nasyiah menghampiri, mereka pun tersenyum...

Jumat, 08 Juni 2012

Jangan Sampai Salah Memilih Pasangan Hidup

Kebimbangan itulah perasaan yang sering muncul di hati para lajang tatkala harus memutuskan dengan siapa ia akan menikah. Perasaan ini wajar muncul, karena keputusan menikah adalah keputusan besar yang akan mempengaruhi jalan hidup seseorang, karenanya mereka akan berhati-hati dalam menentukan calon pendamping hidupnya.

Kebimbangan semacam ini juga dirasakan Annisa, wanita berusia 24 tahun yang kebetulan berparas cantik. Sebagai muslimah ia sudah merasa jengah dengan para lelaki yang mencoba mendekatinya. Baginya hanya ada satu solusi, menikah. Tapi ia jadi bingung pria mana yang harus ia terima pinangannya. Di mata Annisa setiap pria yang mencoba mendekatinya memiliki kekurangan. Kini Annisa jadi bertanya dalam hati sebenarnya syarat apa saja sih yang mesti ia tetapkan untuk calon pendampingnya kelak?.

Tak ada gading yang tak retak, begitu yang dikatakan pepatah untuk mengungkapkan sebenarnya tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, namun sesungguhnya ada kualitas kepribadian dasar yang harus kita dan calon pasangan kita miliki agar dapat membina mahligai rumah tangga yang bahagia. Kualitas pribadi tersebut antara lain:

Kualitas Keberagamaan
Agama merupakan keyakinan yang mempengaruhi hati, fikiran perasaan dan tingkah laku seseorang sehingga orang yang mempunyai pemahaman serta pengalaman agamanya yang baik akan sangat terbantu dalam mengatasi berbagai masalah. Kondisi ini pada akhirnya akan mempengaruhi kebahagiaan dan kelanggengan sebuah perkawinan.

Memiliki Komitmen Untuk Mengembangkan Diri
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya msing-masing. Namun setiap orang juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Penting bagi kita untuk memiliki komitmen pengembangan pribadi ini, yaitu bagaimana seseorang memahami kekurangan yang ada, belajar dari kesalahan dan mau mendengarkan nasihat orang lain. Semua hal tersebut bermuara pada bagaimana ia membangun dan mengembangan dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijak.

Keterbukaan Emosional
Artinya adalah orang yang memiliki perasaan, mengetahui apa yang sedang dirasakan, mau berbagi perasaan dengan pasangannya dan mengetahui cara mengungkapkan perasaan. Keterbukaan Emosional menjadi modal penting dalam membangun komunikasi dengan pasangan kita, sedangkan komunikasi yang baik adalah modal penting dalam membangun rumah tangga harmonis.

Memiliki Integritas
Setiap orang mendambakan calon pasangan yang mempunyai integritas diri. Kita menginginkan orang yang, jujur, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, dalam hal ini terutama dengan pasangannya, kita juga ingin calon pasangan kita adalah orang yang tidak main-main dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi masa depannya. Itulah makna integritas diri.

Kematangan dan Tanggung Jawab

Memiliki kematangaan berarti ia bisa mengurus dirinya sendiri, tahu mana yang baik/buruk buat dirinya. Sedangkan bertanggung jawab berarti dia memahami langkah yang dia ambil beserta resiko-resiko yang mungkin dihadapi.

Memiliki Harga Diri
Ingatlah agar seseorang bisa mencintai ia harus cinta pada dirinya sendiri. Karena itu lihatlah bagaimana cintanya ia pada dirinya sendiri. Kalau ia sendiri tidak mencintai dirinya, bagaimana mungkin ia bisa mencintai pasangannya?

Sikap Positif Terhadap Kehidupan
Mereka yang memiliki sikap hidup positif akan berusaha mengubah segala kendala menjadi peluang, dan biasanya percaya bahwa segalanya akan bisa menjadi baik.

Itu semua kualitas ideal yang perlu dimiliki oeleh calon pasangan kita dan diri kita sendiri pada saat kita akan menikah. Namun situasi yang dihadapai Annisa atau situasi yang sejenis dengan itu, sering membuat kita tidak bisa berfikir jernih. Karena itu adalah hal-hal yang harus kita waspadai agar tidak salah paham dalam memilih pasangan. Hal-hal seperti ini mungkin akan membantu kita :

1. Jangan terlalu cepat memutuskan untuk menikah dengan si dia

Sediakan waktu yang cukup untuk memperoleh informasi yang memadai tentang calon pasangan anda tersebut. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari calon pasangan hidup kita itu:

a. Latar Belakang Kehidupan.
- Nasab/latar belakang keturunan mencakup hubungan keluarga asal, apakah berasal dari keluarga utuh, harmonis, atau broken home. Termasuk bentuk hubungan dengan saudara kandung

- Agama, norma-norma atau nilai-nilai status sosial ekonomi, suku, tradisi budaya keluarga asal.

- Adakah penyakit keturunan yang berhubungan dengan faktor genetic.

b. Masalah yang berkaitan dengan kualitas diri
- Kualitas Dien
- Akhlaq
- Tipe kepribadian (tertutup/terbuka, pendiam, periang, emosional, sabar)
- Pendidikan, kapasitas intelektual, profesi.
- Latar belakang organisasi, aktivitas sosial.
- Kemampuan problem solving
- Kepercayaan diri.

2. Jangan menikah di usia yang belum matang secara pribadi
Siap menikah berarti siap menghadapai masalah yang semuanya menuntut kedewasaan berfikir dan bersikap. Kedewasaan ini tidak bisa di ukur dengan usianya lebih dewasa dibanding mereka yang lebih tua.

Kedewasaan juga mempengaruhi dalam kita menentukan pilihan calon pasangan kita. Mereka yang kurang matang cenderung hanya terpukau pada hal-hal yang bersifat luaran saja.

3. Jangan memilih pasangan hanya untuk menyenangkan orang lain
Andalah orang yang beruntung atau yang menderita dengan pernikahan anda. Kalau pun ada faktor orang lain dalam mempertemukan antara anda dengan si dia pastikan bahwa anda sendirilah yang memutuskan bahwa dialah yang memang terbaik buat anda (tentunya beristiqarah terlebih dahulu).

4. Jangan menikah dengan harapan-harapan yang tidak realistis
Biasanya niatan awal menikah mempengaruhi masalah-masalah apa yang akan mendominasi selama kehidupan perkawinan. Kepuasan dalam kehidupan perkawinan dan terhadap tolak ukurnya berada pada harapan tersebut. Bila tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan.

5. Jangan menikah dengan seseorang yang memilki masalah kepribadian
Berhati-hatilah terhadap orang yang memiliki kepribadian yang sulit untuk dirubah, diperlukan pengertian dan lapang dada yang luar biasa untuk menghadapi orang seperti ini. Pada dasarnya setiap orang memiliki perilaku bermasalah, namun yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kadar, intensitas dan frekwensinya seseorang yang masuk dalam kategori mengalami masalah kepribadian adalah bila memiliki prilaku bermasalah yang mendominasi keseharian dan mempengaruhi adaptasinya dengan orang lain. Biasanya orang seperti ini sering membuat orang lain atau dirinya sendiri merasa terganggu dan tidak nyaman dengan perilakunya.

Inna Mutmainnah, S.Psi.
Sumber: Majalah Safina No. 2/Th.1
Read More... Jangan Sampai Salah Memilih Pasangan Hidup

Kamis, 07 Juni 2012

Perjanjian Perkawinan


Perkawinan merupakan perilaku sakral yang termaktub dalam seluruh ajaran agama. Dengan perkawinan diharapkan akan menciptakan pergaulan laki-laki dan perempuan menjadi terhormat, interaksi hidup berumah tangga dalam suasana damai, tenteram, dan rasa kasih sayang antar anggota keluarga, yang bermuara pada pembentukan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Akan tetapi, fakta yang berkembang saat ini, harmonisasi keluarga terganggu oleh fenomena makin maraknya gugatan perceraian akibat kesewenangan seorang suami terhadap isterinya. Ini bisa dilihat dari praktek poligami yang tidak sehat, suami tidak memberi nafkah wajib pada isteri, suami meninggalkan isteri bertahun-tahun, serta suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence), baik kekerasan dalam bentuk fisik, ekonomi, maupun psikologis.
Berangkat dari fenomena yang terjadi di atas, maka dilembagakanlah perjanjian perkawinan, dalam hal ini termasuk pula taklik talak yang diproyeksikan sebagai “senjata” bagi wanita untuk mencegah kesewenang-wenangaan suami. Dengan diadakannya perjanjian perkawinan, diharapkan dapat menjadi acuan jika suatu saat timbul konflik dalam rumah tangga. Selain itu, bila dalam rumah tangga tersebut terjadi prahara, sebab suami menganiaya dan menelantarkan isteri, dan perceraian dianggap sebagai pilihan terakhir yang harus ditempuh, maka perjanjian perkawinan dapat memudahkan isteri untuk lepas dari ikatan perkawinan dengan suaminya. 
Meski demikian, di negara kita yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran, menjadi persoalan yang sensitif ketika salah seorang calon pasangan berniat mengajukan untuk membuat perjanjian perkawinan. Perjanjian perkawinan menjadi suatu hal yang tidak lazim dan dianggap tidak biasa, kasar, materialistik, egois, tidak etis, tidak sesuai dengan adat timur dan lain sebagainya. Oleh karena demikian, perlu kiranya diberi pemahaman tentang hakikat dibuatnya perjanjian perkawinan tersebut yang bukan semata-mata hanya untuk mempertahankan ego atau materialistik salah satu pihak, tapi sebagai bentuk perlindungan hak-hak wanita supaya sejarah tersubordinasinya wanita tidak selalu terulang sepanjang zaman dan selama isi dari perjanjian perkawinan tersebut tidak melanggar syar’i.
Perjanjian perkawinan dalam bentuk taklik talak mengandung banyak nilai-nilai, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sudah cukup mewakili untuk melindungi hak-hak seorang wanita (isteri) dari perlakuan diskrimintaif suami. Bila dirumuskan secara sederhana, kita bisa mendapatkan nilai-nilai perlindungan yang terkandung didalamnya, yakni nilai moral seorang suami, rasa cinta yang akan diberikan pada isteri dan anak-anaknya, tanggung jawab yang akan dijalani suami selama berkeluarga, dan nilai jera (istri menuntut cerai) yang akan dialami suami jika melanggar janji tersebut.
Dalam konsekuensi tersebut, perlu diberi kebijakan bahwa dengan pelanggaran pada sebuah perjanjian perkawinan tidaklah mesti harus diakhiri dengan perceraian, kecuali dilakukan dengan unsur kesengajaan oleh suami yang sudah tidak menginginkan untuk hidup bersama lagi dengan isterinya.
Dalam KHI pun terkandung nilai perlindungan, meskipun perlindungan tersebut adalah menyangkut harta, baik harta pribadi atau harta pencaharian masing-masing maupun harta pencaharian bersama. Perlindungan ini diharapkan untuk menghindari dari sewenang-wenang salah satu pihak terhadap harta yang mereka miliki.
Keseluruhan tulisan ini telah dipublikasikan pada Jurnal Al-Akhwalus Syahsyiah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, oleh Zuhrah.
Read More... Perjanjian Perkawinan