Pages

Jumat, 28 Agustus 2015

Perempuan dalam Pilkada

Dunia politik adalah dunia kekuasaan yang paling kongkrit, disinilah terjadi persaingan, dari mulai tingkat paling lunak sampai paling kasar, dan karena perempuan jarang melewati tahap-tahap berpolitik ini. “etos kerja” politiknya rendah. Politik terlalu sederhana untuk dijadikan propesi karena di dalamnya terdapat sejumlah kepentingan. Politik lebih indah disebut sebagai perjuangan. Di dalamnya ada berbagai nuansa pembelaan terhadap hak-hak orang tertindas, politikus perempuan tak terkecuali, harus melakukan hal serupa.

Sistem nilai patriarkhi menempatkan perempuan berada dibawah subordinasi laki-laki, sistem patriarkhi dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari baik pada perempuan kelas bawah maupun kelas atas, di rumah, di tempat kerja dan dikomunitas yang lebih luas, wujud dan intensitas subordinasi bervariasi. Namun pada dasarnya sama mengandung salah satu atau lebih unsur-unsur yang merendahkan perempuan seperti, diskriminasi, kurang dihargai, kontrol, pemerasan, penindasan dan kekerasan, celakanya sistem ini diadopsi oleh negara sebagaimana tercermin dalam undang-undang kebijakan, maupun peraturan-peraturan bermasyarakat dan bernegara.

Ormas perempuan yang mempunyai massa luas dan bebas bergerak seperto PKK dan Dharma Wanita selain telah dikontrol oleh pemerintah (seperti halnyan, SPSI, HKTI, KNPI dan lain-lain) juga melanggengkan posisi subordinasi perempuan di bawah laki-laki, dalam organisasi ini posisi perempuan sangat tergantung pada laki-laki, artinya dalam kontek hak berserikat, perempuan ditundukkan dua kali yaitu di bawah kontrol negara dan di bawah kontrol laki-laki.

Sehubungan dengan keterwakilam perempuan dalam dunia politik kita punya harapan besar terhadap keberadaan perempuan dalam pemilihan kepala daerah langsung yang sedang bergulir saat ini di dunia perpolitikan negeri ini, bagaimana peluang perempuan dalam pemilihan kepala daerah secara langsung ini atau dengan kata lain apakah peluang perempuan sebagai pemimpin daerah mempuyai peluang yang sama dengan laki-laki? Kita tunggu hasilnya.
Read More... Perempuan dalam Pilkada

Selasa, 18 Agustus 2015

Dilema Peran Perempuan dalam Politik

Dalam negara yang menganut sistem nilai patriarkal, seperti Indonesia, kesempatan perempuan untuk menjadi politisi relatif terbatasi karena persepsi masyarakat mengenai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, yang cenderung bias kearah membatasi peran perempuan wanita pada urusan rumah tangga. Namun demikian, pada masa perjuangan kemerdekaan, kebutuhan akan kehadiran banyak pejuang, baik laki-laki maupun perempuan, membuka kesempatan luas bagi para wanita untuk berkiprah di luar lingkup domestik dengan tanggungjawab urusan rumah tangga. Masyarakat menerima dan menghargai para pejuang perempuan yang ikut berperan di medan perang, dalam pendidikan, dalam pengobatan, dan dalam pengelolaan logistik. Kesempatan ini memberi kemudahan pada perempuan untuk memperjuangkan isu-isu yang berhubungan dengan kepentingan mereka atau yang terjadi di sekitar mereka selain isu politik.

Kurangnya representasi perempuan dalam bidang politik antara lain disebabkan oleh kondisi budaya yang patriakal yang tidak diimbangi kemudahan akses dalam bantuk tindakan afirmatif bagi perempuan, seperti pemberian kuota. GBHN, dan berbagai instrumen politik dan hukum tidak secara eksplisit menunjukkan diskriminasi terhadap perempuan namun tidak pula memberikan pembelaan dan kemudahan bagi perempuan dalam berbagai bidang, termasuk politik. Undang-Undang Dasar 1945, Bab X, Ayat 27 menyatakan bahwa “Semua warganegara adalah sama di hadapan hukum dan pemerintah,” sedangkan Ayat 28 menjamin “Kebebasan berkumpul dan berserikat, dan kebebasan menyatakan pendapat baik secara lisan maupun tertulis.” Sekalipun demikian, dalam kondisi yang patriakhal perempuan menghadapi beberapa kendala untuk mensejajarkan diri dengan laki-laki dalam berbagai bidang.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola seleksi antara laki-laki dan perempuan terkait keterlibatannya dalam politik. Faktor pertama berhubungan dengan konteks budaya di Indonesia yang masih sangat kental asas patriarkalnya. Persepsi yang sering dipegang adalah bahwa arena politik adalah untuk laki-laki, dan bahwa tidaklah pantas bagi wanita untuk terlibat dalam politik.
faktor kedua, kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan wanita. Sering dirasakan bahwa sungguh sulit merekrut perempuan dengan kemampuan politik yang memungkinkan mereka bersaing dengan laki-laki. Perempuan yang memiliki kapabilitas politik memadai cenderung terlibat dalam usaha pembelaan atau memilih peran-peran yang non-partisan.
faktor ketiga, faktor keluarga. Wanita berkeluarga sering mengalami hambatan-hambatan tertentu, khususnya persoalan izin dari pasangan mereka. Banyak suami cenderung menolak pandangan-pandangan mereka dan aktifitas tambahan mereka diluar rumah. Kegiatan-kegiatan politik biasanya membutuhkan tingkat keterlibatan yang tinggi dan penyediaan waktu dan uang yang besar, dan banyak perempuan sering memegang jabatan-jabatan yang tidak menguntungkan secara finansial. (Husna)

Read More... Dilema Peran Perempuan dalam Politik

Rabu, 03 Juni 2015

Bantuan kepada Korban Kebakaran di Desa Keli

Musibah Kebakaran yang terjadi di desa Keli Kecamatan Woha Kabupaten Bima menghanguskan sebelas rumah pada ahad pagi 31 Mei 2015 pukul 03.00 wita. kebakaran yang menghakibatkan sembilan rumah rata dengan tanah tanpa tersisa ini diduga berasal dari kerusakan arus listrik yang ada di rumah Kepala Desa Keli, yang selanjutnya api dengan cepat merambat ke beberapa rumah di sekitarnya. banyaknya korban materil yang dirugikan dari peristiwa ini mencapai ratusan juta rupiah. sebagai bentuk keprihatinan atas musibah yang terjadi, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Kabupaten Bima berinisiasi untuk memberikan bantuan kepada korban kebakaran tersebut.
selasa 2 Juni 2015 PD Nasyiah Kabupaten Bima bersama IMM Cabang Bima mengunjungi lokasi kejadian. berdasarkan hasil koordinasi dengan Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah Desa Keli didapatkan informasi bahwa korban sangat membutuhkan perlengkapan dapur, disamping beberapa kebutuhan mendasar lainnya.disampign itu, adik-adik dari Pimpinan Cabang IMM Bima juga menyerahkan bantuan sembako langsung di posko penerimaan bantuan kebakaran. kegiatan ini juga terselenggara atas bantuan dari LazisMu Bima.
Read More... Bantuan kepada Korban Kebakaran di Desa Keli

Rabu, 06 Mei 2015

KARINA (Kajian Rutin Nasyiah)

Pimpinan Daerah nasyiatul Aisyiyah secara aktif telah melaksanakan kegiatan "mengaji" memperdalam pemahaman dan pengetahuan tentang agama, sosial, dan hal-hal yang terkait dengan perempuan dan anak. sejak dikukuhkan berdasarkan SK Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiah pada September 2014 lalu, PDNA Kabupaten Bima mengawali kegiatan mengaji ini dengan tema awal ketarjihan. kegiatan yang dinamai dengan KARINA (Kajian Rutin Nasyiah) ini berlangsung 2x dalam 1 bulan yang sifatnya tematik. adapun tema-tema yang telah dibahas adalah
ketarjihan, ayat-ayat muhkamat dan Mutasyabihat, metode pengambilan hukum Islam, Konsep negara dalam Islam. KARINA diadakan tiap ahad pertama di awal bulan dan ahad ketiga diakhir bulan. adapun peserta yang mengikuti KARINA terdiri dari para pengurus PDNA, adik-adik Immawati dan IPMawati. peserta yang hadir tiap pekannya sebanyak 20-26 orang. KARINA untuk semester ini dibimbing langsung oleh KH.Abdul Ghany Masjkur (Muma). disamping itu, kegiatan yang rutin diselenggarakan di kediaman Muma di Jl. Sultan Salahuddin No.4 ini dirangkaikan dengan Arisan anggota PDNA Kabupaten Bima.(Husna)
Read More... KARINA (Kajian Rutin Nasyiah)

Senin, 04 Mei 2015

Pemberian Bantuan Sembako pada Penderita Kusta

Sebanyak 23 Kepala Keluarga di RT 03/RW 01 desa Panda Kecamatan Palibelo Kabupaten Bima mendapatkan bantuan sembako dari Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) dan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kabupaten Bima pada Ahad 3 Mei 2015 lalu. Tidak hanya pembagian sembako, PDA dan PDNA Kabupaten Bima juga memberikan penyuluhan agama kepada warga setempat. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan LAZIS Muhammadiyah Bima. Menurut Dra. Suharni, Ketua Umum PDA Kabupaten Bima, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Aisyiyah Kabupaten Bima terhadap warga penderita kusta yang telah lama berdiam di desa Panda, dimana lokasi ini merupakan tempat isolasi bagi penderita kusta sejak 20 tahun lalu. Kegiatan juga sebagai upaya untuk terus menggiatkan gerakan dakwah Aisyiyah di masyarakat Bima.
Di samping itu, Zuhrah, M.HI, selaku Ketua Umum PDNA Kabupaten Bima juga menyatakan bahwa“banyaknya perempuan yang menjadi penderita kusta, TB, kanker dan beberapa masalah kesehatan lainnya mengindikasikan bahwa kesejahteraan perempuan masih jauh dari yang diharapkan. Disini diperlukan kiprah Nasyiah untuk terus intens melakukan advokasi terhadap perempuan dan anak.” Zuhrah kembali menegaskan bahwa “Nasyiah Kabupaten Bima akan terus mengupayakan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang menyentuh langsung pada kebutuhan perempuan dan anak di Kabupaten Bima sebagaimana telah dituangkan dalam program kerja.”(husna)
Read More... Pemberian Bantuan Sembako pada Penderita Kusta

Jumat, 01 Mei 2015

Catatan Kecil di Hari Pendidikan Nasional

Sampai saat ini kesenjangan tingkat pendidikan dan ekonomi masih cukup tinggi di negeri ini. Jumlah penduduk miskin pun tak signifikan berkurang. Padahal, bangsa ini memiliki sejarah perjuangan yang panjang untuk merdeka. Darah dan air mata tertumpah untuk merebut kedaulatan dan harga diri bangsa. Dulu, negeri ini banyak mempunyai pejuang sekaligus pemimpin dan pemikir, jujur, bermoral tinggi, dan mengutamakan pendidikan dan kesejahteraan bagi kaum miskin di atas segalanya. Padahal konsep bangsa berarti setiap masyarakat yang menempati suatu wilayah yang mengutamakan rasa senasib dan seperjuangan.
Sejarah suatu bangsa ditentukan oleh mereka sendiri. Demikian juga, rakyat berdaulat atau tidak, sangat ditentukan oleh rakyat itu sendiri. Sudah menjadi tugas para pemimpin, politikus, ulama, dan cendekiawan, serta tokoh-tokoh bangsa lainnya untuk mendengarkan suara rakyat dan mengartikulasikannya menjadi agregasi dan agenda perubahan politik ke arah yang lebih baik. Jika tidak, bagaimana kita bisa menjadi bangsa yang terdidik dan mandiri. Memang ada upaya pemerintah dan rakyat Indonesia untuk meningkatkan pendidikan dengan bertambahnya jumlah dan jenis sekolah, karena besarnya hasrat rakyat untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Namun, yang diutamakan seringkali jumlah sekolah, bukan mutunya.
Pemimpin dan politisi negara sudah waktunya harus memikirkan mutu sekolah yang sesuai dengan cita-cita bangsa yang merdeka dan berdaulat. Mengingat laju perkembangan ilmu pengetahuan demikian cepat dengan langkah yang melompat-lompat, diperlukan strategi yang jitu dan kerja yang keras agar bangsa kita terdidik dan lebih maju. Dari waktu ke waktu iklim pendidikan berubah. Hal ini menyesuaikan dengan kebutuhan baik kebutuhan lokal maupun mengadaptasi perkembangan global. Kebutuhan industri (dunia kerja) dan perkembangan sosial budaya juga berperan dalam perubahan ini.
Saat ini pendidikan Indonesia menuju pendewasaan yang entah kapan mencapai kemapanan. Berbagai peningkatan yang dilakukan seakan pencarian bentuk yang tiada usai. Kurikulum berubah dari waktu ke waktu namun belum menunjukkan kemapanan dalam pencapaian. Bahkan, orang tua dan peserta didik menjadi bingung dengan berbagai perubahan ini. Evaluasi dan kritik terhadap sistem pendidikan nasional tidak salah. Akan tetapi bukankah akan lebih berman faat jika kita lebih melihat sisi positif pendidikan kita dan tidak melulu melihat keburukan pendidikan Indonesia. Apa yang membuat kita malas dengan pendidikan Indonesia dan menganggap kurang dari negara lain mungkin saja disebabkan karena kita jarang melihat dan mengakui hal positif dalam pendidikan nasional.
Kita semua menyadari bahwa perbaikan dalam sistem pendidikan sangat diperlukan. Sudah bukan saatnya kita hanya mengkritisi akan tetapi berbuat untuk yang lebih baik dan selalu positive thinking dengan pendidikan kita akan lebih membangun pendidikan Indonesia kedepannya. Pada akhirnya, dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun ini, kita memang harus terus berusaha melakukan yang terbaik bagi pendidikan di Indonesia. Hal sekecil apapun seperti gerakan gemar membaca pasti akan berguna bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi? Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Read More... Catatan Kecil di Hari Pendidikan Nasional

Menjadi Muslimah yang Enggak Gaptek

Teknologi. Apa yang terbayang dibalik kepala kita saat sebaris kata itu muncul? Bisa alat-alat elektronik dengan spesifikasi menakjubkan, bisa mobil-mobil sedan keluaran terbaru, atau bisa juga roket penembus angkasa dengan manusia melayang-layang didalamnya. Yang pasti, semua yang berbau "High Class", maka itulah teknologi. Teknologi, pada saat ini menjadi barang yang boleh jadi, sudah bukan sesuatu yang membuat mata atau hidung kita alergi lagi mendengarnya. Setiap perputaran hidup kita, saat ini, dengan atau tidak kita sadari dikelilingi oleh teknologi. Lihat saya mesin cuci dipojok ruang belakang rumah kita, lemari pendingin yang menjulang di sisi dapur kita, atau microwave, si- "kotak ajaib" sebagai alat bantu masak kita. Semuanya adalah bagian dari teknologi. Terlebih saat ini, dengan era internet yang disebut juga sebagai era Information Technology (IT).
Semua hal dapat dengan mudah kita dapatkan. Akses informasi seperti tak mengenal ruang dan waktu, tersaji dalam hitungan sepersekian detik, Subhanallah! Dari mulai resep masakan, sampai informasi terbaru Rekayasa Genetik misalnya, dapat kita temukan melalui internet. Memasuki era teknologi, mau tidak mau, kita selaku komponen dari banyaknya komunitas
Dunia harus mulai terbiasa dengan hal ini. Khususnya Teknologi Informasi, yaitu internet tadi. Karena lalu lintas informasi dari setiap sisi kehidupan di Dunia ini dapat kita temukan melalui internet. Komunikasi virtual, yang diantaranya tersaji dalam fasilitas email, chatting dan miling list memudahkan kita berhubungan dengan masyarakat di belahan Dunia bagian manapun, dalam rangka menghadapi Globalisasi dan Perdagangan Bebas.
Lalu, bagaimanakah posisi kita, sebagai seorang muslimah dalam rangka menghadapi era Teknologi sekarang ini? Jawabnya sangat banyak. Muslimah, yang pada hakikatnya adalah tiang sebuah negara, pembangun generasi yang akan meneruskan perjuangan ini di kemudian hari, harus mengerti teknologi. Karena kita hidup pada masa dimana anak-anak kita semakin sering bergesekan dengan teknologi. Lantas, darimana mereka akan belajar mengenal teknologi dengan baik, kalau bukan dari kita yang berperan mewujudkan madrasah pertama bagi anak-anak kita? Selain itu, wanita pada masa ini juga dituntut untuk meningkatkan keterampilannya dalam menghadapi dunia kerja. Karena hampir semua yang ada pada pekerjaan berhubungan dengan teknologi. Termasuk juga pekerjaan Rumah Tangga kita, seperti yang sudah disinggung diatas.
Dengan menguasai teknologi juga kita tidak akan mudah ditipu orang. Karena banyak kejahatan yang dilakukan dengan menggunakan fasilitas-fasilitas teknologi. Para ahli bahkan mengatakan, "Siapa yang tidak menguasai teknologi, harus siap terpental dari kehidupan." Yang terpenting bagi kita, keharusan menguasai teknologi tidak terbatas apakah dia pria atau wanita. Teknologi adalah untuk dipelajari semua lapisan dan kelompok manusia. Termasuk kita, seorang wanita muslim. Agar kita tidak terpental dari kehidupan, seperti yang dikatakan para ahli tersebut. Maka, mulailah sekarang untuk belajar banyak mengenai teknologi. Agar tidak ada lagi istilah "Gaptek" (Gagap Teknologi) dalam menghadapi kehidupan ini.
Read More... Menjadi Muslimah yang Enggak Gaptek